Monday, July 15, 2013

Dyari Cinta Yang Tak Biasa

       Semoga semua keluarga di Palembang sehat.         
       Salam u semua dan khusus u papa
       Wassalam
       Haikal


         Hatiku berdetak membaca sms tersebut. Haikal laki-laki tampan yang selalu kusimpan rapat-rapat dalam hati dan ingatanku. Sudah cukup lama kami tidak saling kontak. Terakhir kali, lebih kurang dua bulan lalu dia sempat menelponku, namun karena pada saat itu aku sedang sibuk menjaga papa di rumah sakit. Aku gak sempat mengangkatnya. Aku baru menyadari ada 3 miscalled dari bang Haikal saat hampir tengah malam.

       Maaf abang tadi Esi sedang sibuk di rumah sakit
       dan HP disimpan di tas. 
       Jadi gak kedengaran abang nelpon Esi. Ada apa ya bang?

Namun smsku tidak dibalas. Yah...sudah mungkin dia agak kecewa. Sejak “misscalled” nya itu baru kali ini dia berusaha menghubungiku melalui sms tersebut. Aku membalas smsnya.

       Alhamdulillah semua dalam keadaan sehat.
       Abang Haikal apa kabar?

Hanya dalam hitungan detik kuterima balasan sms darinya.

      Alhamdulillah. Waiyyakum

       Bang Haikal, seorang laki-laki keturunan Aceh, wajah tampan dan postur tubuhnya sangat mempesona. Dia anak angkat mama. Bang Haikal adalah rekan sejawat di perusahaan tempat adik kandungku Andri. Dalam perusahaan tersebut bang Haikal menjabat general manager HRD sedangkan Andri menjabat general manager Produksi. Posisi mereka sebagai pejabat dalam perusahaan tersebut tidak menjadikan mereka mitra yang sejalan. Kebijakan bang Haikal sebagai GM HRD terkadang sering bertentangan dengan kebutuhan Andri sebagai GM Produksi dan hal tersebut membuat mereka sering berdebat mempertahankan pendapat mereka masing-masing di rapat-rapat manajemen. Cerita itu kudapat dari mama.

       Suatu ketika mama sedang berlibur ke rumah Andri di Cilegon. Tanpa sengaja suatu hari ketika bang Haikal melihat mama sedang menata taman di rumah Andri, bang Haikal merasa amat tertarik dan terkesan sekali dengan sikap mama. Bang Haikal dan Andri tetangga sebelah rumah. Sejak saat itu selama mama di rumah Andri, bang Haikal menjadi sangat sering bersilaturahim ke rumah Andri. Sikap dan perilaku mama mengingatkan bang Haikal pada almarhum ibunya. Mirip seratus persen. Akhirnya bang Haikal meminta mama menjadi mama angkatnya. Dan bang Haikal benar-benar menganggap mama sebagai ibu kandungnya. Selang seminggu sekali abang selalu menelpon untuk menanyakan kabar mama, mengirimi mama bermacam-macam hadiah. Karena mamalah menjadikan bang Haikal dan Andri menjadi akrab.

        Pertama kali aku bertemu bang Haikal sekitar tahun 2004, saat itu abang sedang berkunjung ke rumah mama. Sore hari itu sepulang kerja aku dan suami menjemput Naufal dan Bella yang dititip di rumah mama selama kami kerja. Kami sempat ngobrol sebentar. Dan ketika hendak pulang sebelum aku sampai ke pintu pagar abang memanggilku. Abang menasehati aku agar rajin sholat, tahajud dan membaca Al-Quran. Aku tak memahami pesan abang, tapi dari pancaran wajah kudusnya aku menangkap kesan iba dia terhadapku.

       Pertemuan itu cuma singkat tanpa kesan mendalam. Aku bahkan telah melupakannya sama sekali. Rumah tanggaku akhirnya hancur berantakan. Perceraian yang sudah tak dapat dihindari, bahkan kasus perebutan anak dengan mantan suami yang begitu pelik membuat jalan hidupku penuh cobaan.

         Aku bertemu kembali dengan bang Haikal sekitar 7 bulan yang lalu, ketika mama sedang dirawat di rumah sakit. Disini aku bisa mengenal abang secara lebih dekat. Menjelang wafatnya mama sempat dirawat di rumah sakit selama seminggu. Dan selama seminggu itu aku menjadi amat dekat dengan abang. Giliranku menjaga mama adalah sepulang kantor jam 5 sore sampai hampir jam 10 malam. Sedang abang 24 jam tak pernah beringsut menjaga mama.

       Banyak hal-hal yang kami bicarakan selama menunggui mama. Tapi aku lebih banyak berfungsi sebagai pendengar semua nasehat abang. Abang memang seorang ulama (ustadz). Aku terpana ketika mendengar nasehat-nasehatnya, karena dari semua pembicaraannya aku menyimpulkan dia tahu persis kehidupan pribadiku. Aku tersenyum dalam hati. Dia selalu memonitor kehidupanku setiap kali menelpon mama. Pantes... mama selalu menyampaikan titipan salam abang buat aku setiap kali habis ditelpon abang. Aku menganggap hal tersebut cuma basa-basi saja. Bahkan pada saat aku menghadapi kasus perebutan anak-anak oleh mantan suami, dimana aku di meja hijaukan dengan tuduhan penganiayaan terhadap anak-anak, abang sempat menelpon mama. Abang menyampaikan pesan agar sabar, tabah dan jangan dilawan. Abang menasehati tak usahlah anak-anak diperebutkan, relakanlah diambil mantan suami. Sampai sebatas itu aku belum menganggap pesan abang sebagai sesuatu yang berarti.

       Kedekatan selama seminggu ini menumbuhkan perasaan kagumku pada abang. Pengetahuan agamanya sangat banyak, sopan santun, kelembutannya, semua menjadi kekaguman yang sangat dalam. Hari minggu 1 Juli 2013, tepat jam 08.10 WIB mama pulang kepangkuan Allah. Bang Haikal, Aldo adikku dan papa yang menemani mama sakaratul maut. Teringat nasehat dan bujukan abang ketika aku menangis dan nyaris pingsan ketika mengetahui mama telah meninggalkan aku.

       Aku terduduk lemas di lantai rumah sakit tepat di depan ruang ICCU tempat mama melepas ajal. Mama adalah tempat aku berbagi rasa, mengadu, meminta nasehat, pertolongan. Mama adalah orang yang paling menguatkanku sejak perceraian terlebih lagi setelah kehilangan kedua anakku. Aku menangis sambil menceracau , papa dan bang Haikal terduduk membujukku.

“Esi sudah gak punya lagi mama. Tempat mengadu dengan segala keluh kesah.” Ocehku terbata-bata sambil menangis keras.
“Esi... ! Esi dengerin abang” bujuk bang Haikal menyuruh aku menatap wajahnya.
“Esi gak boleh meratap... gak boleh nangis. Mama sudah bahagia... Mama sudah kembali ke Allah. Itulah saat yang paling membahagiakan mama”

       Aku mendongak menatap mata bang Haikal dengan air mata yang mengalir deras
“Iya abang... Esi ngerti. Tapi sekarang kemana lagi Esi bisa curhat... Mamalah yang paling ngerti Esi” bantahku sambil tetap menangis keras.
“Ada abang.... Esi bisa ngadu apa aja sama abang. Ayo bangun. Jangan buat mama sedih. Mama pasti sedih kalau Esi begini” tanpa menyentuhku sedikitpun dia menyuruhku bangkit.

       Perlahan aku berdiri dan bersandar didinding rumah sakit. Akhirnya papa mengusulkan aku untuk menunggu di rumah saja, seraya mempersiapkan keperluan penguburan mama karena tepat jam 10.00 WIB jenazah mama akan di bawa pulang ke rumah dan akan dimakamkan selepas sholat Ashar. Papa menyuruh Aldo yang mengantar aku, tapi dengan sigap bang Haikal bilang ke papa, sebaiknya dia saja yang mengantar aku pulang.

Aku menyerahkan kunci mobil ke abang. Beriringan kami berjalan menuju pelataran parkir.
“Mana mobil Esi ?” tanya bang Haikal ketika di pelataran parkir.
“Itu Jazz plat No. BG 351 SD” tunjukku.
“Esi tunggu disini aja biar abang muter dulu” ujarnya

Aku mengangguk lemah.

       Aku masih lemas, setelah semalaman tidak tidur sama sekali, karena sejak jam 8 malam mama sudah kritis, dan sudah 2 kali diresistusi. Kematian mama pagi ini membuat aku merasa hilang separuh nafasku. Di tengah perjalanan abang menghentikan mobil di mini market “Alfa Mart”. Aku ikut turun karena harus memilih handuk, sabun mandi dan beberapa perangkat peralatan memandikan mama. Tadinya aku gak kuat lagi untuk turun mobil. Abang yang membujukku untuk memilih warna handuk, sabun mandi apa yang mama suka katanya. Akhirnya aku turun.

       Aku kaget ketika hendak melakukan pembayaran di kasir abang sudah stand by dengan beberapa lembar uang ratusan ribu ditangannya. Juga kulihat dia membeli banyak snack dan minuman. Ketika aku hendak membayar dia langsung menggeleng-gelengkan kepala isyarat melarangku. Bagiku meski dia anak angkat mama tetaplah dia pihak ketiga. Inilah baktiku terakhir kali untuk mengurus seluruh keperluan mama. Tapi tatapan mata abang membuat aku mengalah. Abang membayar semua total belanjaan.

Sesampainya di dalam mobil abang membuka sepotong roti isi daging dan menyodorkannya padaku.
“Makanlah.... ! Abang lihat sudah beberapa hari Esi gak pernah makan” bujuk abang.

       Aku kaget, ternyata dia benar-benar memperhatikan aku. Benar sudah hampir seminggu ini aku sulit sekali untuk makan, nafsu makanku hilang. Bahkan sudah 3 hari sebelum mama meninggal aku benar-benar tidak meneguk apapun kecuali minum dan makan permen. Ternyata semua itu tak luput dari perhatian abang.

“Ayolah... Esi mesti jaga kondisi. Kalau Esi sakit, mama yang disana pasti sedih” ujarnya membujukku.

       Aku mengambil roti isi daging yang disodorkannya. Kugigit. Kulihat abang merasa lega, baru dia memasang sabuk pengaman dan menstarter mobil. Banyak nasehat yang abang berikan sepanjang perjalanan ke rumah mama. Diperjalanan sambil nyetir abang kembali menyodorkan Buavita jambu kepadaku. Aku terharu dengan sikap dan perhatian abang.

       Abang dengan setia selalu mendampingi aku disaat pemakaman mama, bisikannya tak pernah henti, mengingatkan aku untuk bersabar dan menyuruh aku untuk berdzikir, bershalawat, berdoa selama prosesi pemakaman mama. Selesai pemakaman mama, abang langsung menuju bandara untuk pulang ke Cilegon langsung dari lokasi perkuburan. Dia memeluk papa, Aldo dan Andri ketika berpamitan. Kemudian mendekatiku menangkupkan kedua telapak tangan di dadanya berpamitan. Kudengar lagi pesannya agar aku bersabar. Sampai perpisahan tersebut aku belum mempunyai perasaan lebih terhadap bang Haikal.

 *************

       Malam hari usai shalat Isya, kurebahkan tubuhku yang terasa amat lelah. Televisi di depanku menyala namun mata dan pikiranku menerawang. Kurasa bulir-bulir panas mengalir di pipiku. Entah sampai kapan air mata ini akan berhenti. Kesedihanku karena kehilangan mama belum juga pergi. Aku tak bisa untuk tidak menangis bila mengingat aku sudah tak punya mama lagi. Aku makin terisak. Kedengar allert sms masuk di ponselku. Kuseka air mata dan mengambil ponsel yang terletak di meja rias. Kubuka pesan singkat yang terpampang didisplay.

       Apa kabar keluarga di Palembang?
       Bagaimana kondisi Papa?
       Sudah kembali sehat? Salam untuk papa. Esi juga harus sehat .
       Salam
       Haikal

       Kupejamkan mata sejenak dan menarik nafas panjang. Tak terasa air mataku kembali membasahi pipi. Setiap mengenang mama pasti aku gak dapat menahan air mata. Kuseka air mataku lalu mulai membalas sms abang.


       Papa masih belum sehat bener abang.
       Entahlah rasanya tak bisa dilukiskan.
       Kesedihan atas kehilangan mama belum mau pergi, 
       tapi sekarang papa pula yang sakit. 
       Pengen nangis rasanya


       Tak berselang lama dari message delivery, kudengar ponselku berdering, kubaca nama “Bang Haikal” di display. Aku menekan answer pada ponselku.
“Assalamu'alaikum. Ya abang”
“Wa alaikum salam. Masih nangis Esi? “ tanya abang to the point.

Lama aku gak menjawab gurauan abang. Aku masih terisak. Mungkin terdengar isakanku oleh abang, karena kudengar tiba-tiba suara abang lembut kembali menyapa di telpon.
“Esi....”
“Ya bang...”
“Semua yang ada di dunia ini pasti ada akhirnya. Tidak mama, tidak papa, kita juga akan ada akhirnya” ujarnya.

Aku masih tetap diam tanpa menjawab.
“ Esi masih dengar abang??” tanyanya lagi
“ Masih bang...”
“ Ayolah Esi gak boleh sedih berlarut-larut. Esi gak boleh jadi rapuh begini, karena papa dan Evi butuh Esi”

         Aku tidak menjawab apa-apa. Yang kudengar nasehat panjang darinya. Bahwa aku harus terus menjaga dan mengurus papa. Mumpung papa masih ada. Karena mengurus papa dengan kesabaran merupakan ladang pahala yang sangat besar.


**********

        Dan begitulah hari demi hari kami mulai akrab walau cuma lewat sms ataupun sambungan telpon. Setiap beberapa hari berselang abang mengirimkan sms meski cuma untuk basa-basi menanyakan kabarku atau kabar papa. Aku merasa malu pada diriku sendiri karena dengan kedekatan kami aku merasakan getar-getar aneh yang tak dapat kubahasakan. Aku menyimpan sendiri getar-getar aneh itu. Aku takut berbagi tentang jalinan ini, karena memang tak wajar seorang yang sudah beristri rutin berkomunikasi dengan wanita single.

           Perjalanan hidupku dalam kesendirian selalu naik turun, namun aku berusaha sabar dan pasrah pada Allah. Sudah lebih sebulan ini aku dalam kondisi penuh tekanan. Renovasi rumahku progressnya berjalan agak lambat. Memang gak masalah sih karena toh aku membayar upah tukang secara borongan, jadi resiko dia kalau lambat atau cepat. Cuma terasa amat lelah banget dengan kondisi rumah yang cukup berantakan ini. Belum lagi segalanya aku pikirkan sendiri, mulai dari desain, mencari material bangunan dan kekhawatiran akan kekurangan biaya renovasi.

          Disisi lain fitnah dan omongan jelek tentang diriku yang disebarkan oleh mantan suami serta anak-anakku tak juga berhenti meski waktu sudah berjalan lama. Yang paling menyakiti selalu saja gosip itu sampai dan disampaikan orang lain ke telingaku. Harusnya aku pasrahkan saja semua pada Allah, namun sebagai manusia kadangkala aku sampai juga ke titik lemah.

           Aku berdiri dari tempat dudukku dan meletakkan Al-Quran diatas rak buku, dan bergegas menuju kamar. Aku menyeka air mata yang mengalir dipipiku, melipat mukenah dan menyampirkannya ke sisi ranjang. Rasa sesak didadaku menyeruak. Aku terpaku menarik nafas sekuatku, mengaliri rongga dadaku yang sesak dengan udara. Air mata makin deras mengalir. Seketika aku mengambil ponselku, dan berbaring di ranjang. Tiba-tiba aku ingat bang Haikal, aku ingin mengadu. Namun aku ragu, takut ada kesalahpahaman. Kuurungkan untuk menelpon,namun tanpa sadar tanganku terus menekan keybord di ponselku, akhirnya kukirim sebuah sms untuk melegakan diri.

         Boleh gak sih kita merasa capek dan lelah dalam hidup ini?

        Aku memejamkan mata untuk menepis rasa pedih yang menyeruak. Tak berselang lama aku mendengar ponselku berbunyi. Kubaca di display sms dari abang Haikal.

         Mana boleh, hidup dan mati itu hak Allah. 
         Tugas kita hanya menjalani saja. 
         Nanti abang telp,
         Salam
         Haikal

          Aku merasa ada perasaan lega didadaku. Kembali hatiku bergetar mengingat bang Haikal. Dia yang selalu penuh nasehat, perhatian dan siap siaga membantuku saat aku membutuhkan .

           Hampir jam sebelas malam, aku hampir saja terlelap ketika, alunan “My Destiny, by Rain” di ponselku. Aku terbangun,beranjak mengambil ponselku di meja rias dan kubaca nama “Bang Haikal” pada display. Oh..abang. Kutekan answer.

“Assalamu' alaikum Esi”
“Wa alaikum salam ”
“Belum tidur?” tanyanya
“Hampi tertidur” jawabku dengan suara serak dan lemah karena puas menangis tadi.
“Esi habis nangis ya....”selidiknya.

Aku tidak menjawab.
“Esi... abang mengerti, bahwa dalam kehidupan ini kadangkala kita merasa capek, lelah, hampa dan terluka. Jangankan Esi yang memang hidup sendiri, abang aja juga sering merasakan itu, seperti bosan ditempat kerja, ngerasa ingin berhenti kerja, itu lumrah. Tapi pada saat perasaan itu datang, harus kita kembalikan semua ke Allah”

Aku diam saja mendengar nasehatnya. Sudah menjadi ciri khas abang setiap menelpon pasti memberikan petuahnya.

“Kita sering gak menyadari bahwa Allah SWT tak pernah berhenti menyayangi kita. Dia gak pernah berhenti mendengarkan dan mengabulkan doa-doa kita. Allah dengan segala kesempurnaanNYA selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Esi gak boleh berputus asa atau istilahnya capek dalam hidup, karena percayalah Allah akan selalu ada disamping kita” lanjutnya lagi.

Aku masih diam dan terpaku, mendengarkan suara abang. Air mataku mulai menetes kembali satu persatu di pipi. Ada rasa kagum, teduh dan merasa nyaman mendengar nasihatnya.
“Esi....” panggilnya
“Ya bang...”
“Masih dengerin abang ya”
“Masih bang”

Aku menyeka air mataku dan mencoba menyimak kembali suara abang.
“Makanya, Esi tuh harus cari kegiatan, jangan sendirian di rumah terus. Ikut pengajian atau apalah supaya Esi gak stress. Masalah anak-anak jangan lagi dipikirkan, percayalah suatu saat entah kapan mereka akan kembali dengan sendirinya. Yakinlah! "

"Untuk itu Esi amat yakin abang. Saat ini mereka memang masih bisa dicuci otaknya, tapi makin besar mereka akan bisa berpikir. Karena kenyataannya selama mereka bersama Esi, jiwa raga Esi khususkan buat kebaikan mereka"

"Baguslah kalau gitu. Meski gak bisa meraih pahala dari mengasuh dan mendidik anak, masih banyak ladang amal pahala yang bisa Esi dapat. Esi kan cukup mapan, jadi dengan kekayaan yang Esi miliki, jangan pernah malas untuk bersedekah. Keluarkan uang untuk membantu orang-orang yang gak mampu. Sangat besar pahalanya"

"Iya bang. Insya Allah"
"Dan sebaiknya Esi harus segera cari pendamping hidup lagi, menikah lagi. Karena seorang wanita gak baik hidup sendirian terus”

Deggg...jantungku berdegub kencang, aku merasa sangat sedih mendengar kata-kata abang. Dari tadi aku cuma diam saja mendengarkan abang, akhirnya aku harus menjawab.
“Abang, kalau soal menikah.... bukan Esi gak mau atau gak memikirkannya. Esi sangat berharap untuk itu. Bahkan setiap habis sholat, dalam tahajud, dan beberapa kali umroh doa agar segera diberikan pendamping hidup tak pernah berhenti Esi panjatkan. Esi juga sudah ngerasa capek dan gak sanggup rasanya hidup sendiri. Dan nyatanya sampai saat ini doa-doa itu belum juga dikabulkan“ jawabku setengah terisak.

“Iya... tapi mungkin Esi terlalu ketat seleksinya” selanya
“Abang, bagi Esi pernikahanku yang dulu jelas menjadi pengalaman berharga dan menjadi tolok ukur bagiku untuk mencari pendamping hidup lagi”

“Gak boleh gitu Esi! Kalau selalu begitu artinya Esi trauma pada masa lalu... Jelek buat diri Esi sendiri. Akhirnya sulit untuk ketemu ….” Jawabnya seolah menyalahkanku. Aku menyela dengan cepat.

“Tidak abang, Esi bukan trauma. Bayangkan kehidupan pernikahanku dulu penuh dengan siksaan baik lahir maupun psikis. Selama 6 tahun Esi menderita lahir batin karena siksaan laki-laki kejam dan gak bertanggung jawab. Jelas aku gak mau semua itu terulang”


“Nah itulah. Esi gak boleh selalu mikir begitu. Laki-laki tidak semuanya sama. Cobalah membuka hati”

“Esi ngerti bang. Bukan menutup hati. Semata-mata hanyalah kehati-hatian. Esi ngerasa kehati-hatian ini sangat banyak hikmahnya. Bagiku sendiri selalu berterima kasih pada Allah. Terus terang bukannya gak ada yang mendekati Esi. Banyak! Dan Esi sudah coba membuka hati. Tapi entahlah setelah mengetahui sifat dan tabiat mereka hatiku seakan menolaknya”

“Ya itu...tadi karena Esi trauma” sela bang Haikal ngotot
“Gak abang....! Esi merasa bersyukur, karena apa? Setelah laki-laki tersebut jadian dengan wanita lain, akhirnya kebuka bahwa keragu-raguan Esi dulu ternyata benar. Artinya apa bang? Allah masih melindungi Esi dari kesakitan seperti dulu. Jadi sekarang untuk masalah menikah lagi Esi pasrahkan saja. Kalau memang Allah sudah ngasih gak akan kemana” balasku menjelaskan.

“Abang kalau mau jujur, sebenarnya Esi itu sangat rapuh. Tapi karena kondisi dan fakta kehidupan ini Esi harus “survive” yah.. akhirnya Esi berusaha menjadi kuat dan mampu. Padahal...”ujarku lagi.

“Ya menurut abang Esi memang kuat kok. Makanya Allah memberikan cobaan itu buat Esi, karena dimata Allah Esi pasti mampu menghadapinya” balas abang. Aku diam saja mendengarnya.


“Terus terang Esi, abang sangat salut sama kamu. Esi tuh wanita hebat loh. Janda kaya yang hebat. Coba aja pikir.. gak setiap wanita mampu seperti Esi. Bangun rumah, punya kendaraan bagus, karir dikantor baik. Yang lebih salut lagi abang sama Esi adalah pergi umroh tiga kali. Sendirian lagi. Wah...luar biasa. Kalau istri abang mana berani dia pergi sendiri. Ke mall aja minta dianterin “ pujinya.

“Ya gaklah bang, istri abang kan tergantung pada abang karena ada abang. Coba kalau Esi punya suami pastilah minta anterin juga kesana-kemari. Karena sendirian kalau gak pergi sendiri ya gak..bisa nyampelah” elakku.

“Ya iyalah... maksud abang, Esi harus selalu bersyukur diberi kekuatan itu. Itu anugerah loh.... Pesen abang jangan pernah berhenti untuk bersyukur. Masih ingetkan doa agar kita selalu bersyukur yang abang ajarkan dulu? ”

“Masih abang yang baik hati. Insya Allah...bang, rasa syukur ini gak pernah putus dihati Esi” jawabku sedikit bercanda.

“Ya baguslah kalau gitu. Nah soal doa-doa minta jodoh yang belum dikabulkan Allah, mungkin ada hikmahnya. Bisa saja Esi berdoa minta jodoh, sedangkan papa, Evi dan seluruh keluarga didalam hati kecilnya masih mengharapkan Esi untuk dapat melindungi dan membantu mereka. Jadi doa Esi seorang kalah dengan doa orang banyak” ujarnya lagi. Aku berpikir sejenak.

“Mungkin juga ya bang, karena Esi ngerasa meski Esi wanita dan sendiri, setiap ada masalah misal papa sakit, Esi selalu jadi tumpuan setidaknya untuk nganterin kesana kemari atau cari obat buat papa kadang jam sebelas malem Esi masih keliaran nyari apotik, karena Esi satu-satunya yang bisa nyetir. Kak Ros aja meski punya suami, karena suaminya sibuk dikerjaannya, kalau ada apa-apa minta tolongnya ke Esi”


“Nah...itu! Jadi sabar dan pasrahkan saja sama Allah”
“Iya abang. Terima kasih untuk semuanya. Maaf selalu ngeganggu abang dengan keluhan yang gak penting”
“Sama-sama.Ya gak lah.... abang merasa seneng kok bisa saling menasehati. Apalagi untuk Esi. Menyenangkan lo mendengar suara Esi tuh. Apalagi pas agak serak-serak sehabis nangis” candanya.
“Yeeee...segitunya “ balasku
“Gimana sekarang sudah lega?”
“Alhamdulillah bang. Makasih ya...selalu bantuin Esi”
“Alhamdulillah. Sekarang tidur gih... entar kemaleman. Inget jangan lupa tahajud” ujarnya mengingatkan.

“Iya..insya Allah gak lupa tahajudnya”
“Oke bagus itu baru bener-bener adek abang yang cantik. Assalamu'alaikum”
“Wa alaikum salam “

        Aku meletakkan kembali ponselku di meja rias. Ada rasa tak biasa yang bergetar di dada. Dan itu selalu terjadi setiap abang menelponku. Ya Allah...Engkau yang memberikan rasa, tolong hamba untuk mampu mengendalikan rasa ini bila semua itu tidak baik untukku, abang dan keluarganya. Malam itu aku terlelap dengan rasa bahagia.

**********

        Jam dinding dikamarku menunjukkan pukul 8 tepat saat aku melipat mukenah selesai sholat Isya yang ditutup dengan sholat sunat Ba'da Isya. Aku menyalakan televisi dengan channel favoritku Trans 7. Perlahan aku menuju meja kerja, menyalakan laptopku. Sudah menjadi kebiasaanku selalu menuliskan perasaan melalui blog pribadiku. Hatiku sedang berbunga, setelah kemarin malam menerima telpon bang Haikal. Sejak kedekatanku dengan bang Haikal aku merasa ada yang berbeda pada diriku ada getaran, ada perasaan lain di hatiku. mungkinkah aku jatuh cinta padanya? Tapi apakah ini perasaan yang benar? Sudah lama rasa seperti ini tak pernah aku rasakan. Sejak kehancuran rumah tanggaku aku hampir mati rasa dan tidak pernah lagi bisa jatuh cinta pada seorang laki-lakipun.

      Baru saja aku menekan pasword untuk sign in pada blog pribadiku, kudengar alunan “My Destiny, by Rain” di ponselku. Aku mengambil ponselku kubaca nama Bang Haikal pada display. Hatiku berdetak, bang Haikal, ada apa ya? Bukankah baru kemarin malam dia berpanjang lebar menelponku. Kok malam ini nelpon kembali. Kutekan tombol answer.

“Assalamu'alaikum abang” sapaku
“Wa'alaikum salam “ balasnya

Aku terdiam dan gemetar. Jantungku berdetak cepat dan tak tahu mau berkata apa.
“Apa kabar Esi? Lagi Ngapain? "
"Alhamdulillah kabar baik, baru aja selesai Isya dan baru mau buka laptop eh ada telpon" gurauku
" Masih ngerjain kerjaan kantor???" tanya abang menyelidik
"Nggak...sedang buat blog. Biasalah nulis-nulis karangan"
"Wah hebat banget. Esi tuh pinter nulis juga ya?
"Sedikit abang"
"Satu lagi yang buat abang salut. Subhanallah"
"Baru tahu ya kalau Esi tuh hebat" selorohku.

Kudengar abang tergelak dengan selorohku
“Ayo, sombong. Gak boleh sombong"balasnya
"Cuma bercanda abang. Serius amat sih" ujarku membela diri
"Iya ngerti. Abang juga yakin orang kayak Esi gak mungkin sombong. Soalnya kalau dia mulai sombong pasti abang marahin" candanya menggoda.

 Kami tergelak bersama
"Gimana sekarang apa masih ngerasa capek untuk hidup” tanyanya bergurau.

Gantian aku yang tergelak mendengar gurauannya.
“Ih...abang bisa aja. Kan sudah dapat tausiyah dari abang kemaren malem. Jangan berputus asa dari rahmat Allah, dan jangan pernah ragu untuk bersandar kepadaNya. Dan jangan biarkan hati dan jiwa kering tanpa mengingatNya” jawabku mengulangi nasehatnya.

Kudengar abang tertawa dan berdecak-decak.

“Alhamdulillah. Berarti Esi orang yang bisa membuka hati, mau menerima nasehat. Biasanya orang yang mau mendengarkan orang lain itu orang yang punya hati cemerlang” pujinya.
“Waduhhhh... lagi-lagi menyanjung” balasku.
“Eh...abang serius memuji gitu, karena memang faktanya begitu”
“Cieeeee.....” elakku membuang rasa tersipuku.
“Ngomong-ngomong apa kabar papa” ucapnya memotong gurauanku.
“Alhamdulillah baik, sehat”
“Alhamdulillah. Kalau Esi apa kabar? Sehat?”
“Yeeeeee....lupa tadi kan sudah dijawab diawal telpon. Esi dalam keadaan sehat wal afiat” kembali aku bercanda.

     Kami tergelak bersama. Banyak yang kami bicarakan malam ini. Tentang pekerjaan, hadist, ayat-ayat Al-Qur'an sampai pernyataan kekaguman abang terhadap aku. Semua dalam nuansa ceria. Hingga akhirnya aku kaget dengan sebuah ucapannya yang membuat hatiku berhenti berdetak.

“Esi cukup lama abang menilai, mengamati tentang Esi. Bahkan sudah beristikharah berkali-kali abang mengambil kesimpulan " ujarnya serius.
"Istikharah???? Tentang Esi????" tanyaku gak mengerti.
"Iya" balasnya datar.
"Maksudnya????" tanyaku makin tak menentu
"Andai abang ingin menjadi seseorang yang dapat melindungi, menyayangi dan saling menasehati bersama Esi untuk meraih syurga Allah, gimana” ujar abang dengan nada serius.

Aku terdiam, tercekat dan seluruh tubuhku lemas seolah mau pingsan. Hatiku kelu dan air mataku mengalir tanpa terasa. Aku menangis tanpa sadar. Ucapan itu, bukankah itu sebuah lamaran untukku. Abang Haikal seorang laki-laki yang telah berhasil membuka hatiku yang terluka, yang selalu siap siaga menemani, menasehati aku disaat aku terbelenggu dalam masalah dan lara. Seorang laki-laki dengan segala predikat super, seorang ustadz, seorang yang punya posisi baik dipekerjaannya, seorang laki-laki yang benar-benar menjadi sosok idolaku. Seorang yang selalu menghadirkan kebahagiaan yang membuncah dihatiku setiap kali berbincang-bincang dengannya. Selama ini aku menyimpan kagum dan sejuta rasa yang kusimpan rapat-rapat untuknya.

      Entahlah kenapa pada dia...kenapa harus dia. Sungguh tidak mudah bagiku, karena cinta ini datang justru kepada seorang yang sudah menikah. Abang Haikal sudah beristri dan mempunyai empat orang anak. Aku masih menangis tersekat.

“Esi menangis??? Apa abang salah dengan ucapan abang? ujar abang mendengar isakku.
Aku tersentak, segera kuhentikan tangisku. Kuseka air mataku dengan punggung tanganku.
“Esi...” lirih suara abang kembali menyapa
“Ya bang...” jawabku lirih
“Esi tersinggung dengan ucapan abang?” tanyanya pelan
“Sama sekali tidak abang?”
“Lalu kenapa Esi menangis?”

Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengaliri rongga dadaku yang sesak dengan udara. Akhirnya setelah nafasku agak lega aku mencoba menjawab pertanyaan abang.
“Abang Esi terharu dengan ucapan abang. Esi sendiri kaget abang sampai ngomong begitu. Karena kalau mau jujur, selama ini. Selama kedekatan abang dengan Esi, sebenarnya Esi sangat mengagumi abang. Bagi Esi, abang adalah a shoulder to cry on” ucapku dengan menahan nafas.
Kutarik nafas panjang kembali untuk menumpahkan perasaan yang aku simpan selama ini.
“Sejak dekat dengan abang ketika kita menunggu mama di rumah sakit, Esi menyukai abang. Tapi.....” lanjutku lepas.
“Tapi apa?????” tanya abang penasaran
“ Esi  tak mau menerjemahkan perasaan itu sebagai suatu yang lebih, karena semua itu tak mungkin”
“Gak mungkin???? Kenapa gak mungkin” tukasnya ngotot.
“Esi inget mama yang selalu menasehati, agar jangan menjadi perusak rumah tangga orang lain. Esi juga punya prinsip gak mau dijadikan orang kedua. Esi gak mau menyakiti sesama wanita. Uni (panggilanku untuk istri abang karena dia berasal dari Minang) pasti akan merasa sakit bila dia diduakan” jawabku panjang lebar.
“Andai abang bisa meyakinkan uni dan uni sendiri mengijinkan abang untuk memiliki Esi bagaimana?” belanya.
"Gak mungkin"
"Kenapa Esi"
“Esi punya prinsip dalam hidup tidak mau menjadi orang yang kedua"
"Jadi maksudnya abang harus menceraikan uni gitu"
 "Esi gak mau juga abang menceraikan uni” tegasku
“Lalu abang harus bagaimana agar abang bisa bersama Esi"
“Ya itu prinsip hidupku. Akan ada jalan bila Allah memberinya” balasku pasrah.
“Ya Allah...” kudengar suaranya seperti mendesah.

Cukup lama kami saling berdiam diri. Sampai akhirnya kudengar suaranya di ponselku.

“Entah bagaimana mengungkapkan rasa kecewa ini, tapi semua kita kembalikan pada kekuasaan Allah. Abang tulus menyayangi Esi karena rasa ingin melindungi dan memang Esi pantas untuk dikagumi dan disukai. Alangkah bahagianya abang bila kita bisa bersatu. Tadinya abang kebayang bila Esi bersama abang, kita bisa sama-sama memberikan dakwah. Esi sangat cerdas dan gampang ingat apa saja kalimat-kalimat hadist atau Al Qur'an yang abang ceritakan. Ditambah lagi kepandaian Esi berbicara di depan umum, pasti abang bisa menelorkan Esi jadi pendakwah yang super. Jadi sayang abang pada Esi punya misi agar kita bisa bersama meraih syurganya Allah. Itu niat tulus abang, bukan karena nafsu”

Aku terhenyak, terdiam. Aku merasa terlalu naif dan khawatir semua perasaan abang hanya emosional dan bujukan hawa nafsu semata. Terlalu dzalim rasanya ketika aku harus menjadi orang ketiga diantara kehidupan rumah tangga uni dan abang. Terlalu egois jika aku nekad untuk menerima tawaran yang sepertinya indah ini padahal akan menyakiti hati sesama kaumku. Andai aku di posisi uni jelas akan sangat tersakiti. 

“Tapi abang mengerti dan berusaha memahami prinsip hidup Esi. Abang akan terus menyimpan kekaguman dan rasa sayang untuk Esi. Abang akan terus memohon pada Allah agar abang bisa hidup bersama Esi, mewujudkan cita-cita yang abang niatkan untuk Esi” ujarnya dengan nada kecewa.
“Amin...ya Rabb. Terima kasih abang, semoga Allah mendengar suara hati kita ya”
“Insya Allah. Okelah sudah larut malam, Esi jangan terlalu malam tidurnya inget pesan abang jangan lupa tahajud.”
“Ya abang...”
“Dan satu lagi pesen abang”
“Apa”
“Sebut nama abang dalam doa dipenghujung malammu ya” godanya.
“Amin...insya Allah” jawabku tersipu.
“Assalamu'alaikum”
“Wa alaikum salam”

    Aku menekan tombol merah di ponselku mengakhiri pembicaraan. Kuletakan ponsel di meja kerjaku. Sign out dari blog pribadi dan men”shutdown” laptopku. Aku berjalan lemah ke tempat tidur. Kurebahkan tubuhku. “Ya Allah...kenapa ini? Hamba tak paham yang terjadi. Kenapa Engkau berikan rasa ini? Harus apa dan bagaimakah aku? Bolehkah hamba menyimpan rasa cinta ini? Mengapa harus pada dia hatiku terpaut? Ya Allah...begitu banyak tanya dihati hamba, hamba tidak paham sedangkan Engkau pasti memahami. Tolonglah hamba ya Allah...dia sudah menikah. Apabila rasa ini hadir dariMu, bagaimana aku memantaskannya? Benarkah rasa ini datang dariMU dan bukan nafsu dariku? Bila semua ini datang dari ridhoMu..tolonglah hamba ya Allah jalan yang terbaik bagi kami. Air mataku mengalir lagi.

     Aku bangun dari pembaringan mengambil ponselku. Kutekan simbol media, memilih folder music. Kupilih lagu kesukaanku dari Afgan, aku menangis, syair lagu tersebut seakan selaras dengan yang aku rasakan. Dengan suara tersekat akupun mengikuti bernyanyi bait demi baitnya.

Andai engkau tahu betapa ku mencinta
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau pinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya


Jika aku bukan jalanmu

Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu


**********
To be continued
Cerita ini masih akan bersambung karena episode cinta ini merupakan episode nyata dalam hidupku.



Ikhtiar! Berjuanglah membebaskan diri.. Jika engkau sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau tolong orang lain


No comments:

Post a Comment