Wednesday, March 27, 2013

ANAKKU, TERIMA KASIH TELAH MENJADIKAN IBUMU TERPIDANA.

Oleh : ESI SAMSIDAR

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”

Berulang-ulang aku membaca makna surat Al-Baqarah ayat 216 tersebut. Sejenak mataku menerawang jauh, ayat ini amat aku sukai sebagai pengobat hati saat aku merasa pedih akan cobaan hidup yang harus kujalani. Aku masih melanjutkan bacaan Al-Qur'anku sampai maqro. Kuakhiri dengan lafal Shadaqallahul Adziim dan melanjutkan berdoa dengan suara yang lirih :

“Ya Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sesuatu yang aku tidak mengetahui hakekatnya, dan sekiranya tidak Engkau ampuni dan belas kasih niscaya aku termasuk orang – orang yang merugi. “Terimakasih Ya Alloh telah Kau beri aku kekuatan menjalani seluruh cobaan hidup ini. Aku tidak peduli pada siapapun, karena aku hanya takut padaMu, tidak pada apapun. Aku tidak pernah takut untuk dibenci oleh mereka yang membuat kesimpulan mengenai kasusku, karena tidak ada yang lebih ku khawatirkan selain takut Engkau membenciku. Aku hanya berserah diri kepadaMU ya Allah. Engkaulah harapanku dalam hidup dan matiku. Hanya Engkaulah tempat aku mengadu ya Allah. Tolonglah aku, ampuni dosa-dosaku. Kuatkan aku ya Allah”

Begitu berat rasanya kenyataan yang harus aku terima, seakan Tuhan tidak adil akan diriku mengapa demikian buruk kenyataan yang harus aku hadapi saat ini.Sekarang aku bernafas tanpa anak-anakku, kami sudah melangkah berjauhan. Mereka dirampas dengan tuduhan penganiayaan dan kekerasan yang kulakukan, sehingga aku harus berhadapan dengan aparat hukum. Segala skenario yang direkayasa untuk membuat aku terpidana, bahkan anak kandungku sendiri “Ardi” direkayasa agar bersaksi. Sakit!

Dan akhirnya aku bisa menerima semua kenyataan ini, kenyataan bahwa Ardi dan Nabila telah pergi dan entah kapan akan kembali lagi dalam kehidupanku. Aku sudah mengikhlaskan semua. Maafkan aku yang jika selama hidupku tak berguna bagimu anak-anakku, maafkan aku yang jika pernah menyakitimu dan maafkan aku yang tak bisa disampingmu sampai detik ini sebagai ibumu, tapi tahukah kamu? Aku akan tetap menjagamu melalui tangan perkasa Allah dalam setiap sujud dan doa-doa malamku . Aku tak ingin larut dalam kesedihan ini terus-menerus.

Aku berdiri dari tempat dudukku dan meletakkan Al-Quran diatas rak buku, dan bergegas menuju kamar. Perlahan kubuka album foto anak-anakku. Kutatap wajah Ardi dan Nabila ketika mereka masih bayi. Begitu polos dan ceria. Sangat menggemaskan. Satu persatu halaman album kubolak-balik, mataku tertuju pada foto kami bertiga , Ardi tersenyum sambil mencium pipiku dan Nabila berada di pundakku tertawa lepas. Tanpa terasa kurasakan pipiku memanas, bulir-bulir berjatuhan tanpa dapat kutahan. Aku terisak menangis lagi. Malam ini aku rindu.

Jelas terbayang dipelupuk mataku saat Ardi berlari menghindariku ketika dikejauhan dia melihatku. Hati seorang ibu mana yang tidak akan terluka diperlakukan seperti itu. Aku menjerit dan menangis pedih. Seorang anak yang kukandung selama 9 bulan dengan derita panjang dan penuh kesulitan. “Placenta Previa” yang kuderita selama kehamilannya mengharuskan aku bolak-balik harus diopname. Pendarahan yang tak henti sangat mengancam jiwaku dan janinku. Ditambah dengan sikap serta perlakuan suamiku yang begitu kejam dan bengis membuat cobaanku semakin sempurna. Dengan kekuatan dan ketabahanku akhirnya Ardi terlahir juga ke dunia.

*************

Sejak awal pernikahan perjalanan rumah tanggaku penuh gejolak. Di tengah kekalutan hidup, kupasrahkan diriku di hadapanNya. Aku menangis teringat larangan keluargaku saat aku merengek agar keluarga menerima Panji menjadi suamiku. Hampir putus asa aku menjalani kehidupan pernikahanku yang tak kunjung membaik, meski Ardi telah lahir ditengah kehidupan kami. Segala jalan telah kucoba agar kehidupan pernikahanku ini damai dan bahagia. Agar tak selalu cekcok. Kata-kata Panji yang amat kasar dan perilakunya sangat kejam kadang membuatku sangat gusar dan ingin menyerah. Terlebih rsa tanggung jawabnya yang sama sekali tidak ada terhadapku dan Ardi membuat aku menelan duka dan kekecewaan yang sangat dalam Tiada henti doa kupanjatkan agar kehidupan kami bisa membaik.

Tuhan, kupasrahkan nasibku padaMU. Jika Kau berkehendak, apapun bisa terjadi. Semoga aku kuat melalui hari-hari getirku. Namun sekuat apapun aku mencoba bertahan, tak ada yang mampu menahan kehendak takdir yang telah tertulis di Lauh Mahfudz. Akhirnya perceraianku dengan Panji terjadi juga. Aku tiada berdaya, selama 6 tahun aku malang melintang berusaha memperbaiki prahara rumah tangga, sendiri. Ya hanya sendiri... karena semakin aku bertahan, mengalah dan mencoba maka kesemena-menaan suamiku semakin mengganas.

Butuh waktu dan kekuatan lebih untuk aku bertahan hidup dan bangkit dari keterpurukan aku akibat perceraian ini. Namun ujian Tuhan belum jua berakhir. Pada tahun ke-5 perceraianku peristiwa ini terjadi dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hari itu Sabtu, tanggal 22 April 2009, hari yang tak akan terlupakan sepanjang hidupku. Karena membanting stick PS pemberian papanya, aku memarahi Ardi, mencubitnya. Namun semua rasanya telah selesai sampai disitu, saat Ardi mengakui kesalahannya dan aku meminta maaf karena telah mengasarinya.

Tapi kembali takdir Allah belum berpihak padaku. Karena hal tersebut Panji membawa kasus itu ke Kepolisian. Aku duduk sebagai terpidana dalam kasus penagniayaan terhadap anak. Hukuman 6 bulan penjara dengan masa percobaan selama 1 tahun. Dunia terasa hancur bagiku. Tuntutan Panji tidak hanya sampai disitu, dengan ancaman hukuman tersebut hak asuh terhadap kedua anakku. Sejak saat itu penderitaan panjang kujalani.

Vonis masyarakat, teman-teman harus kuhadapi. Mereka dan seluruh manusia yang pandai mengambil kesimpulan tanpa mengetahui apa sebenarnya terjadi. Bagiku tidak perlu menanggapi atau menjelaskan duduk perkara sebenarnya, biarlah Tuhan yang akan mengungkap kebenaran kelak. Tapi aku yakin pasti.

******************

Aku tertunduk lemah, mataku berembun. Aku masih bertahan dengan sisa nafas yang belum kuhembuskan, disisi sebelah kanan jalan kembali aku melihat Ardi tengah mengayuh sepeda sambil tertawa-tawa lepas bersama beberapa orang anak berseragam SMP, serentak dia melengos ketika matanya menatap aku yang tengah memperhatikannya dari seberang jalan. Kubiarkan saja paru-paruku tak terisi oksigen. Biar aku bisa merasakan sakit pada paru-paruku. Dengan begitu mungkin aku bisa menutupi rasa sakit pada hatiku.

Akhirnya aku menangis terisak. seketika pandangan buram , aku berusaha menepikan Jazzku kesisi jalan. Kembali kutoleh Ardi yang telah berlalu. “Kakak, betapa angkuhnya dirimu. Mama sudah hampir tidak punya keberanian lagi untuk menyapa apalagi memelukmu. Lihatlah kerinduan Mama yang sangat mendalam, nak”. Aku memandangi punggungnya bergerak menjauh. Ardi sudah demikian jangkung dan ganteng. Dan aku terus menagis terisak seakan merutuki diriku, menyesali segala yang terjadi. Kembali aku melihat kedalam diriku, seberapa besar kesalahanku sehingga demikian buruk perlakuan anakku terhahadap aku?

Dering telpon m,embuat aku tersentak dan segera mengelap mataku dengan punggung tanganku.

“ Sudah sampai dimana Esi” kudengar suara yuk Erni menyapa
“ Oh... ini sudah di depan mesjid yuk, bentar lagi ya” balasku.

Istirahat kantor Jum'at siang itu aku dan yuk Erni punya janji untuk mengambil jahitan baju kami di butik Dian Pelangi. Sampai di pelataran parkir aku melihat Honda CRV yuk Erni sudah stand by menanti kedatanganku. Aku memarkirkan Jazzku dan segera melompat ke dalam mobil yuk Erni. Aku mencoba tersenyum dan bertanya basa-basi untuk menutupi kesedihanku.

****************

Mengintip dari celah bilikku dengan kehangatannya kian merayap mengusir dingin yang sedari tadi menusuk tulang. Mengingat percakapan dengan pak Iwan di perjalanan pulang kantor ketika kami bersama-sama menuju pelataran parkir. Nafasku hampir terhenti karena kaget mendengar penuturan pak Iwan, beberapa waktu lalu Panji yang sama sekali tidak beliau kenal menyapanya diparkiran motor area kantor pusat. Panji bercerita panjang lebar membeberkan semua keburukan diriku versinya.

Aku terpaku manarik nafas sekuatku, mengaliri rongga dadaku yang sesak dengan udara. Tanpa terasa mataku mulai merebak. Sampai masuk ke dalam jazzku kurasakan bulir-bulir panas membasahi pipiku. Sambil menekan stop kontak aku berdesis lirih' “Ternyata masih belum tuntas juga bagi dia, ikatan denganku ini. Ya Allah..... aku tak mengerti apa yang dia kehendaki dariku”. Aku melajukan jazzku dengan hati perih.

Aku masih merasakan pedih yang dalam ketika, alunan “My Destiny, by Rain” di HP ku. Aku beranjak dan kubaca nama “Lina” pada display. Kutekan answer.

“Assalamu' alaikum mbak Esi”
“Alaikum salam Lina”

Lina adalah tetangga yang akrab dan sangat baik terhadapku. Rumahnya persis didepan rumahku.

“Iya Lin, ada apa nih?” timpalku lagi

Kudengar tawa Lina diseberang. Berbasa-basi sambil bercanda kami tertawa-tawa. Sampai kemudian aku kembali berhenti bernafas mendengar ucapan Lina. Lina bercerita tentang betapa kagetnya dia karena tiba-tiba mertua laki-lakinya datang ke rumahnya. “Akas” begitu panggilan Lina terhadap mertuanya, bertutur melarang Lina untuk bersahabat denganku. Maka akas berceritalah bahwa beliau bertemu dengan Panji di pelataran parkir sekolah Nabila, pada saat itu akas juga sedang menunggui cucunya sekolah.

Akas menjelaskan kalau aku adalah wanita yang pernah dihukum 6 bulan penjara karena menganiaya anak. Aku adalah manusia kejam yang setiap hari menyiksa, memukul, mencubit anak-anakku. Dengan segala cerita buruk tentang aku. Lina merasa kaget dengan cerita akas. Kenapa sampai akas bisa langsung memvonis dan menghakimi aku. Dan Lina berusaha keras menetralisir pandangan akas. Lina sudah cukup lama mengenal hitam putih watakku. Sampai terkagum-kagumnya Lina kehebatan Panji bercerita sehingga membuat akas langsung mempercayai cerita itu seratus persen.

Aku mendengarkan cerita Lina dengan seksama, sambil terus berusaha menarik nafas panjang. Di akhir kalimatnya sebelum menutup telpon Lina masih terus menasehati aku untuk tidak menangis dan tidak memikirkan cerita akas dan Panji. Lina sangat paham aku pasti menangis bila mendapatkan cerita yang selalu disebar luaskan oleh Panji.

“Oke mbak Esi, jangan sedih ya mbak. Cuekin aja, dasar mulut ember memang” pesan Lina
“Iya Lin, terima kasih” balasku susah dengan suara lemah menahan isak tangis yang hampir pecah
“Assalamu'alaikum”
“Alaikum salam”

Kututup HP ku, sejenak mataku menerawang dan tanpa kusadari aku menangis tersedu-sedu. Hatiku terasa amat sakit. Ya Allah.... apa yang tengah menimpaku ini. Apa salahku??? Ampuni aku ya Allah.. Aku sudah sangat lelah dengan episode cerita ini saja. Apa sebenarnya yang dia kehendaki. Kenapa tak pernah berhenti untuk menjelekkan dan memfitnah aku. Bukankah aku menanggap episode ini telah usai. Bahkan buku telah kututup? Hatiku makin gamang, susah untuk mempercayai dan memahami.



Sebaik-baiknya kita pasti lebih baik orang lain  Dan seburuk-buruknya orang lain masih lebih buruk  diri kita.. Menjadi orang baik itu harus tapi jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain.. Ketika hati kita baik, maka akan baik pula perkataan, perbuatan, tutur kata dan perilaku kita Sekalipun ada orang menghujatmu, menyakitimu, memfitnahmu, jangan pernah balas dengan caci  maki



No comments:

Post a Comment