Wednesday, June 8, 2016

CINTA YANG TAK TERUNGKAP



Malam semakin pekat, dan dirinya belum juga enggan terlelap. Merah dan sembab matanya karena sehabis sholat maghrib tadi tersungkur ia di sajadahnya menangis. Ada sesak yang selalu menggumpal, menyesakkan. Dia selalu merefleksikan diri..selalu mencari kesalahan diri tentang salah! 

Tidak.. dan sangat sulit ditemukan. Sedangkan kerinduan itu makin dalam.
Belaian terkasih semakin menyingkirkan dirinya, menjauh tanpa rasa.
Dia tidak dapat mengungkap tentang rasa tentang cinta.
Tak dapat pula dia verbalkan kepada belaian terkasih ananda.
Karena hasut dan bara kebencian telah tersemai dengan baik

Hati tak bergeming dari desis lirih dan istighfar, memohon ampun pada ilahi
Hati tak hendak berhenti berdesis dalam doa-doa panjang di sepertiga malamnya
Hati tak hendak lelah melantunkan bait-bait cinta yang tak dapat terungkapkan
Hati terus menangis lirih tentang pengkhianatan dari kasih yang diizinkan menjenguk dunia melalui rahimnya.
Hati yang telah berdarah dan bernanah tentang pengingkaran dan penikaman tajam.

Cinta itu terpendam dalam dada, diendapkan agar tak menimbulkan kecewa
Cinta itu terus disemai meski hujan tak pernah datang menjenguk
Cinta itu terus tertanam untuknya saja, meski tak berbalas
Cinta itu tetap untuk ananda...

Tidak perlu mengungkap tentang cinta...anandaku
Tidak perlu memohon dimengerti tentang kasih yang tulus
Dan biarkan saja masa akan berlalu
Biarkan saja tentang alam sadar pikiranmu, penilaianmu

Karena hanya kepada Allahlah kita akan kembali...akan ada pertanggungjawaban tentang kebenaran atau kesalahan.
Karena waktu akan terus melanjutkan hari-hari dan bernyanyi tentang cinta
Cinta tak pernah minta pengakuan, penerimaan
Jika kau mengerti bahwa inilah seorang bunda.....


Rabu, 6 April 2016, kala hati berdialog dengan Allah disepertiga malam.


Resti menekan turn of pada laptopnya dan sesaat setelah layar laptop menghitam dia menutupnya. Ialu berbaring dipembaringan. Tanpa perintah bulir-bulir bening itu kembali berdesakan keluar dari matanya mengalir ke luar seperti air bah. Matanya tak pernah menangis lalu menghempaskan desakan nafas yang tertahan. Pelupuk matanya memutar kembali kejadian tadi siang, disaat dia mengemudikan mobil jazz untuk pulang istirahat siang. Disaat matanya tertumbuk pada sosok seorang remaja putri yang berteduh dibawah pohon rindang di depan masjid. Hatinya berdetak. Dia menghentikan laju mobilnya dan mundur beberapa meter. Kembali dia menatap gadis remaja dibawah pohong rindang. Gadis itu menenggak bekal air putih dari thermos plastik tupperware ditangannya sepertinya dia lelah. Dugggg...hatinya berdegup sangat keras. “Nabilah......!” Remaja itu anak kandungnya. Resti gemetar ingin dia membuka kaca mobilnya, lalu berteriak atau bahkan turun untuk memeluk Nabila. Mengajaknya masuk ke mobil dan mengantarnya pulang. Tapi itu cuma hasrat dihatinya. Dia menahan keinginannya. Tapi kekangan hasrat ini membuatnya sangat sakittt......

Dia anak kandung yang disemayamkan selama 9 bulan dalam rahimnya, lantas dilahirkan kedunia dengan kesakitan luar biasa, dibesarkan dengan tangis dan doa karena treatment luar biasa untuk anak autis, mengapa hanya untuk memeluk sekejap saja terlalu sulit. Air mata Resti makin deras mengalir. Setelah puas memandang Resti kembali melajukan Jazznya sebelum gadis remaja itu berteriak atau berlari demi menyadari ada seseorang memandangnya dikejauhan.

Resti merasa telah kehilangan keberanian untuk mendekati anak-anak kandungnya setelah kedua anaknya yang pernah dibesarkan olehnya dengan usaha yang luar biasa telah membenci dan merubah persepsi kedua anaknya yang telah berubah terhadap dirinya. Kedua anak itu membencinya. Entah karena apa. Resti terus introspesi diri, mencari letak kesalhan terbesar didirinya sehingga karma ini begitu keji. Dia lelah dan tersungkur....tidak bertemu...tidak memahami.

Resti terus mengurut kembali serpihan-serpihan tragedi masa silam. Semua manis...dalam getirnya. Betapa jika mau dikisahkan kembali atau digali tentang hatinya, semua adalah niat kebaikan bagi ananda. Bahkan jiwapun akan direlakan. Kala akhir perjumpaan 7 tahun silam, mereka masih penuh cinta, masih penuh kasih. Dan sejalan waktu berjalan kebencian sangat membara dihati mereka. Terhadap ibu kandung.....

Ahhh...alangkah pandai wanita itu sebagai ibu tiri, laki-laki bengis itu mencuci otak ananda. Membuat benteng tinggi agar kami tak bisa mengulur tali kasih. Ya Allah.... Allah...Allah...Allah...Allah...Allah. Geming hatiku berlirih. Ini kehidupan sementara.... Takutlah pada pengadilan akhirat ya insan... Allahu Akbar...Allahu Akbar!

===============
Note : Kepada ananda tercinta yang telah jauh dari bunda. Bunda tidak meminta untuk dipahami dan diingat, tetapi kelak kalian akan tahu meski terhempas, didalam sujud dan doanya nama kalian selalu disebut dengan pengharapan yang baik dunia akhirat.

Dalam kegelapanpun cahaya itu ada. Itulah kebenaran

No comments:

Post a Comment